JawaPos Radar

Kritik Revolusi Mental Jokowi, Ruhut: AHY Sudah Salah Strategi

14/06/2018, 14:20 WIB | Editor: Novianti Setuningsih
AHY
Ketua Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) pemenangan Pilkada 2018 dan Pilpres 2019, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). (Dok.JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Ketua Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) secara terang-terangan mengkritik kebijakan revolusi mental Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menanggapi hal itu, politikus Partai Demokrat yang juga tim sukses Jokowi di 2014, Ruhut Sitompul mengatakan apa yang dilakukan AHY adalah bentuk kepanikan. Sebab, takut tidak bakal dipilih oleh Jokowi menjadi calon wakil presiden (cawapres), sehingga menyerang lewat kritik revolusi mental.

‎"Tuduhan AHY sudah mulai, karena gua lihat dia nggak akan dipakai nih jadi wapres. Itu saja kok jadi belaga galak-galak dikit‎," ujar Ruhut kepada JawaPos.com, Kamis (14/6).

Menurut Ruhut, contoh revolusi mental yang berhasil adalah pembangunan infrastruktur. Sebab, terbukti memberikan manfaat, yakni tidak ada kemacetan di tol saat arus mudik Lebaran tahun ini.

"Jadi, kalau ada orang yang mengritisi, padahal tidak sadar yang dilakukan oleh Pak Jokowi ini berkaitan dengan revolusi mental," tegasnya.

Oleh sebab itu, Ruhut mengatakan yang dilakukan AHY terhadap Jokowi dengan memberikan kritik tidak mendasar adalah strategi yang salah.‎ Bahkan, dia mempertanyakan siapa pembisik AHY sampai bisa menyerang Presiden Jokowi.

"Jokowi ini wong Solo jangan digituin, ambil hatinya yang paling dalam. AHY sudah salah strategi kalau itu. ‎Salah startegi dia, Jokowi nggak boleh digituin (diserang)," katanya.

Ruhut menduga, AHY hanya ingin menaikkan nilai tawarnya di Pilpres 2019 mendatang. Namun cara yang dilakukannya untuk menjadi pendamping Jokowi adalah salah. Bahkan di 2019 untuk menjadi menteri saja bakal susah karena memberikan kritik soal revolusi mental tersebut.

"Sebenarnya dia harus merebut hatinya Pak Jokowi biar bisa jadi menteri, itu modal dia 2024. Kalau begini jadi menteri pun dia susah," pungkasnya.

Sebelumnya, AHY dalam pidato politiknya mengatakan saat ini Presiden Jokowi hanya fokus kepada pembangunan infrastruktur. Padahal, ada yang lebih penting, salah satunya adalah pembangunan manusia.

"Saudara-saudara, sebenarnya pada awal pemerintahan Presiden Joko Widodo, sebagian besar rakyat menaruh harapan kepada program pembangunan manusia Indonesia," ujar AHY dalam pidato politik yang bertemakan 'Dengarkan Suara Rakyat' di JCC, Jakarta, Sabtu (9/6).

Putra sulung dari Presiden Indonesia keenam SBY ini mempertanyakan program Revolusi Mental yang dahulu digagas oleh Jokowi sebelum menjadi Presiden Indonesia. Namun Revolusi Mental yang digagas oleh Jokowi tidak terdengar lagi saat ini.

"Ketika pemerintah saat itu berhasil membangun ribuan kilometer jalan, ratusan jembatan dan proyek infrastruktur lainnya, pantas kita patut bertanya, apa kabar revolusi mental?," tanya AHY.

Sekedar informasi, Revolusi Mental adalah gerakan sosial untuk bersama-sama menuju Indonesia lebih baik. Revolusi mental dilakukan dengan program gempuran nilai untuk senantiasa mengingatkan masyarakat terhadap, nilai-nailai strategis dalam setiap rtuang publik.

(gwn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up