JawaPos Radar

Fadli Zon: Gus Yahya Cederai Reputasi Politik Luar Negeri Indonesia

13/06/2018, 17:30 WIB | Editor: Estu Suryowati
Fadli Zon: Gus Yahya Cederai Reputasi Politik Luar Negeri Indonesia
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon. (dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - ‎Kehadiran anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang baru saja dilantik, Yahya Staquf dalam konferensi tahunan Forum Global AJC (Komite Yahudi Amerika) menuai kritik dari Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Agenda tersebut digelar di Yerusalem pada 10-13 Juni 2018.

Menurut Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon, kunjungan Gus Yahya ke Israel kontraproduktif dengan sikap politik luar negeri Indonesia yang sejak 1947 konsisten mendukung kemerdekaan Palestina.

"Kunjungan Wantimpres Yahya Staquf ke Israel, selain mencederai reputasi politik luar Indonesia di mata internasional, juga melukai rakyat Palestina," ujar Fadli Zon dalam keterangannya kepada JawaPos.com, Rabu (13/6).

Selain itu, menurut Fadli, Gus Yahya bisa melanggar konstitusi dan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri. Dalam konstitusi Indonesia, tertulis tegas penentangan segala bentuk penjajahan.

Apalagi berdasarkan serangkaian resolusi yang dikeluarkan PBB, Israel merupakan negara yang telah melakukan banyak pelanggaran kemanusiaan terhadap Palestina. Salah satunya, kata Fadli, mulai dari Resolusi 181 tahun 1947 tentang pembagian wilayah Palestina dan Israel.

Lainnya yaitu, Resolusi 2253 tahun 1967 tentang upaya Israel mengubah status Yerusalem, Resolusi 3379 tentang Zionisme tahun 1975, Resolusi 4321 tahun 1988 tentang pendudukan Israel dan sejumlah resolusi lainnya baru-baru ini.

"Berdasarkan catatan statistik otoritas Palestina, sejak tahun 2000 hingga Februari 2017, sebanyak 2.069 anak Palestina tewas akibat serangan Israel. Bahkan pada serangan Israel ke Yerusalem Timur dan Tepi Barat pada 2014," tambahnya.

Sementara, kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) menyatakan, serangan tersebut mengakibatkan kematian warga sipil tertinggi sejak 1967.

Oleh sebab itu, kunjungan Gus Yahya ke Israel, selain bertentangan dengan konstitusi, rentan ditafsirkan sebagai simbol pengakuan pejabat negara Indonesia secara de facto atas keberadaan Israel.

"Ini sangat berbahaya dan memprihatinkan. Lebih jauh, kunjungan Staquf juga kontraproduktif bagi agenda diplomasi Indonesia yang selama ini konsisten membela Palestina," tegasnya.

Sekadar informasi, Gus Yahya bertolak ke Israel atas undangan Universitas Tel Aviv untuk menjadi pembicara dengan tema Shifting the Geopolitical Calculus: From Conflict to Cooperation.

Gus Yahya sempat berdialog dengan Forum Global Yahudi Amerika saat berkunjung ke Israel. Dalam forum dialog dengan Direktur Hubungan Antaragama Rabi David Rosen, Yahya mengatakan bahwa kunjungannya ke Israel kali ini tak lepas dari melanjutkan pekerjaan mantan Presiden keempat Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Dalam pertemuan itu, Gus Yahya menyampaikan sejumlah hal, mulai dari langkah yang telah dilakukan Gus Dur sebelumnya, hubungan Yahudi dan Islam, hingga tentang kasih sayang untuk menyelesaikan suatu konflik.

(ce1/gwn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up