JawaPos Radar

ICMI Yakin Suasana Pilgub DKI Tak Terulang Di Pilpres 2019

12/07/2018, 20:32 WIB | Editor: Imam Solehudin
Jimly Asshidiqqie
Mantan Ketua MK, Jimly Asshiddiqie menilai aturan PT 20 persen harus diubah. Jimly yakin suasana panas Pilgub DKI Jakarta tak bakal terbawa ke Pilpres 2019. (Dok.JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yakin situasi Pilkada DKI Jakarta 2017, tak bakal terbawa ke Pilpres 2019. ICMI menyebut politik identitas yang mencuat selama kontestasi perebutan DKI 1 dan 2, tak akan terjadi.

Ketua Umum ICMI, Jimly Asshiddiqie mencontohkan pada Pilgub Jawa Barat. Banyak yang memprediksi adanya 'gesekan' sebagaimana Pilgub DKI.

"Oh ndak, saya rasa ndak (akan mengulang Pilkada Jakarta) sudah selesai itu. yang paling dikhawatirkan (pilkada) Jawa Barat tidak terbukti juga," ujar Jimly di Universitas Indonesia Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (12/7).

Jimly menuturkan, rakyat harus mampu menatap Pilpres 2019 dengan optimisme tinggi. Meski demikian, seluruh pihak juga diminta tidak terlena. Bahwa memang di Indonesia masih ada sejumlah masalah yang bisa dimanfaatkan untuk membuat konflik.

"Saya kira kita berhak optimis saja, walaupun kita harus waspada jangan terlena, karena banyak masalah, politik ekonomi jangan dianggap seakan-akan nggak ada masalah," jelasnya.

Di sisi lain Jimly menilai jika politik identitas itu akan tetap ada. Namun dia meminta agar seluruh pihak tetap menahan diri dan tidak mudah diadu domba. Sehingga fenomena pilkada DKI Jakarta tidak akan terulang.

"Politik identitas itu harus diakui ada dan tidak usah dibayangkan hilang, tapi pertama kita imbau semua pihak jangan baper jangan bawa perasaan," sambungnya.

Lebih lanjut Jimly meminta agar para pejabat publik untuk lebih bisa menjaga etikanya. Sebab mereka adalah sosok-sosok yang menjadi panutan bagi masyarakat.

"Semua tokoh apalagi pejabat publik jangan menggunakan itu (politik identitas) sebagai bahasa terbuka di depan publik, sebab semua pejabat publik itu jadi contoh kemudian diikuti (masyarakat) jadi kita menggunakan isu-isu dengan bahasa kebangasaan," tandasnya.

(sat/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up