JawaPos Radar

Pilpres 2019

Menakar Peluang Ma'ruf Amin Jadi Cawapres Jokowi

12/07/2018, 10:00 WIB | Editor: Estu Suryowati
Menakar Peluang Ma'ruf Amin Jadi Cawapres Jokowi
Ma'ruf Amin dianggap ideal untuk mendampingi Jokowi sebab merupakan pimpinan tertinggi pada lembaga yang menaungi ormas-ormas Islam, yaitu MUI. (dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Pengamat politik dari Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (SIGMA) Said Salahudin ‎mengatakan, meningkatnya kesadaran beragama yang dibarengi dengan kesadaran berpolitik umat Islam dalam beberapa tahun terakhir menjadi fenomena yang menarik. Fenomena ini pun perhatian banyak pihak, tidak terkecuali Joko Widodo (Jokowi) dan parpol pendukungnya.

Fenomena tersebut ditandai dengan sejumlah aksi bela Islam yang diikuti jutaan massa sejak 2016, kemenangan telak Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang didukung ulama pada Pilkada DKI Jakarta 2017, dan kemunculan dai sejuta 'viewer' semisal Ustaz Abdul Somad (UAS) yang kerap menyuarakan pentingnya umat Islam aktif berpolitik di tahun 2018.

"Itu semua telah memberi efek yang signifikan terhadap meningkatnya kesadaran berpolitik pemilih muslim, sebagai pemilih terbesar dalam pemilihan umum," ujar Said kepada JawaPos.com, Kamis (12/7).

Menariknya, di tengah kemunculan umat Islam dalam fenomena tersebut melebur pula kelompok opisisi dan masyarakat yang merasa tidak puas terhadap pemerintahan Jokowi. Elemen-elemen itu pada akhirnya mengkristal menjadi semacam persekutuan.

"Mereka bersekutu mengkritisi pemerintah dan parpol-parpol pendukungnya," katanya.

Sederet fenomena yang muncul secara konsisten tersebut sudah barang tentu menimbulkan kerisauan bagi Jokowi. Jika elemen-elemen itu kompak menjadi penentang pemerintah dan kekompakan itu terjaga sampai dengan Pemilu 2019, maka Jokowi bisa kerepotan menghadapi calon penantang yang didukung oleh elemen-elemen lain.

Nah, dari sinilah kemudian Jokowi dan parpol-parpol pendukungnya memutar otak mengatur strategi untuk menghadapi kelompok tersebut. Maka didapatlah formula yang dipandang efektif, yaitu dengan memecah kelompok yang bersekutu. Mengambil tokoh Islam berpengaruh sebagai cawapres Jokowi menjadi salah satu caranya.

Tetapi pertanyaannya siapa tokoh Islam yang dinilai memiliki pengaruh kuat, suaranya didengar umat, dan pada tingkat tertentu bahkan ikut berperan dalam serangkaian aksi bela Islam?

Di sinilah ditemukan sosok Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kiai Ma'ruf Amin. Ma'ruf dianggap ideal untuk mendampingi Jokowi sebab merupakan pimpinan tertinggi pada lembaga yang menaungi ormas-ormas Islam, yaitu MUI. Dia juga petinggi Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam terbesar.

"Suaranya sering dijadikan rujukan oleh para ulama. Dalam hal ini jelas suara Kiai Ma'ruf lebih didengar dibandingkan dengan TGB, misalnya," ungkapnya.

Kiai Ma'ruf juga tidak mendapatkan resistensi dari parpol-parpol pendukung Jokowi. Sebab selama ini ia cenderung menjaga jarak dengan kelompok oposisi.

Pendek kata, Kiai Ma'ruf dipandang mampu menggaet suara umat Islam dan diyakini tidak akan merecoki urusan 'sharing power'.

"Saya sendiri memang mendengar nama Kiai Ma'ruf masuk dalam daftar cawapres Jokowi. Tetapi dari tiga daftar yang dibuat oleh parpol pendukung Jokowi, yaitu 'long list', 'short list', dan daftar prioritas, saya tidak tahu nama Kiai Ma'ruf terseleksi sampai pada daftar yang mana," tuturnya.

Yang jelas Kiai Ma'ruf punya peluang untuk mendampingi Jokowi. Tetapi Said menduga kepastian beliau menjadi cawapres akan sangat bergantung pada peta koalisi yang dibangun oleh pihak oposisi.

"Jika karakter tokoh yang dijadikan sebagai capres-cawapres oleh pihak oposisi adalah figur yang dekat dengan para ulama, maka di situlah peluang Kiai Ma'ruf untuk mendampingi Jokowi menjadi semakin terbuka," pungkasnya.

(gwn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up