JawaPos Radar

Moeldoko Beberkan Banyaknya Masalah Petani di Indonesia

28/06/2018, 20:43 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Moeldoko Beberkan Banyaknya Masalah Petani di Indonesia
Ilustrasi sawah. (Dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Moeldoko membeberkan sejumlah masalah yang kini dihadapai petani di Tanah Air. Salah satu tantangan utama adalah kian sempitnya lahan yang dikelola. Karenanya, berbagai upaya harus terus dilakukan pemerintah guna menjamin ketersediaan dan pemerataan bahan pangan pokok bagi seluruh masyarakat.

Pasalnya hingga saat ini, Indonesia masih berada pada tahap ketahanan pangan, belum mencapai fase swasembada pangan. "Rata-rata nasional lahan petani kita 0,2 sampai 0,3 hektare. Lahan yang kecil itu juga rusak karena penggunaan pestisida dan pupuk anorganik yang berlebihan," kata Moeldoko, dalam acara Agriculture and Food Forum (ASAFF) yang diselenggarakan HKTI, di JCC, Jakarta, Kamis (28/6/).

Selain itu, pengelolaan pasca panen menjadi tantangan. Petani juga kehilangan hasil pertanian, sebanyak 10 persen kalau tidak dikelola dengan baik. Penggunaan teknologi, kata Kepala Staf Kepresidenan ini juga masih belum terlalu menyentuh proses pengolahan lahan. "Management. Petani tidak terbiasa dengan pendekatan management. Mereka business as usual. Ya sudah seperti itu saja'," ujar Kepala Staf Presiden yang mantan Panglima TNI ini.

Moeldoko Beberkan Banyaknya Masalah Petani di Indonesia
Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Moeldoko (Dok. JawaPos.com)

Di sisi lain, permodalan juga masih menjadi kendala. Meskipun Pemerintah sudah hadir dalam berbagai program untuk membantu permodalan petani, tapi masih saja petani sulit mengakses perbankan. Ke depan, ini harus disolusikan.

"Kalau bicara ketahanan pangan, yang terpenting barangnya ada, masyarakat bisa menikmati, dan harganya cukup stabil. Kalau itu yang terjadi, maka stok pangan nasional tidak boleh kurang," terangnya.

Salah satu opsi untuk dapat memenuhi kebutuhan pangan nasional, jika produksi dalam negeri tidak mampu mencapai targetnya adalah melakukan impor. Namun demikian, keran impor tentunya juga harus dilakukan berdasar data yang akurat.

"Kita harus paham bahwa kebutuhan nasional itu 2, 4 juta ton dalam satu bulan. Berarti kalau tidak bisa memenuhi itu kita harus impor. Kalau tidak impor ada persoalan besar yang dihadapi bangsa ini. Karena persoalan perut adalah persoalan yang sangat sensitif yang tidak bisa ditunda," jelasnya.

Moeldoko yang juga bergelar doktor dalam Ilmu administrasi negara itu mengatakan, bahwasanya memang perlu dipahami perlunya impor untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. "Kebutuhan impor itu masih dibutuhkan Indonesia. Kita harus realistis ya," ungkapnya.

Lebih lanjut, Moeldoko memahami keinginan Menteri Pertanian untuk menciptakan swasembada pangan. Namun hal itu tentunya bukan sesuatu yang mudah untuk dicapai. Terdapat sejumlah hal yang bisa menghambat tercapainya target itu, mulai dari cuaca, hama, dan faktor lainnya.

"Tidak seperti yang kita gambarkan bahwa pertanian begitu tanam langsung panen, tidak. Banyak sekali hambatannya,” terang Moeldoko.

(jpg/bin/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up