JawaPos Radar

Banyak Perawat Dibayar 'Seikhlasnya', PPNI Dorong Praktik Mandiri

16/03/2018, 14:03 WIB | Editor: Imam Solehudin
Perawat
Nasib perawat di Indonesia cukup memprihatinkan. Beda dengan negara-negara lain, tingkat kesejahteraan para perawat masih jauh dari kata layak. (AFP)
Share this image

JawaPos.com - Sejumlah persoalan masih membelit profesi perawat. Dari mulai soal status pekerjaan, peningkatan kapasitas mutu perawat, hingga soal masalah kesejahteraan. Terkait kesejahteraan misalnya, hingga kini tak sedikit para perawat yang dibayar 'seikhlasnya;. Bahkan di salah satu daerah ada perawat yang sama sekali tak dibayar.

"Mereka bekerja hampir 24 jam sehari, tapi tak dibayar. Ini miris," ujar Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadillah disela-sela acara HUT Ke-44 organisasinya di Jakarta Selatan, Kamis (15/3).

Harif mengungkapkan masih banyak perawat yang dibayar hanya Rp 200 ribu. Bahkan ada perawat berstatus tenaga kerja sukarela (TKS) tidak dibayar sama sekali.

HUT PPNI
Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadillah disela-sela acara HUT Ke-44 organisasinya di Jakarta Selatan, Kamis (15/3). (Ist/Jawapos.com)

"Kami temukan di rumah sakit di Kendari, dari 157 perawat, 56 PNS dan 131 TKS. Inikan enggak benar, masa iya lebih banyak TKS dan tidak dibayar juga," ujar Harif dalam taklimat media di Jakarta, Kamis (15/3).

Dia menyebutkan, selama 44 tahun PPNI terus berjuang agar gaji perawat bisa di atas upah minimum provinsi (UMP). Idealnya gaji perawat 3x UMP. Sebab gaji perawat di Indonesia sangat rendah dibanding negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Filipina, dan lain-lain.

"Kami sudah menyurati daerah-daerah agar para perawat diberikan gaji di atas UMP," ujarnya.

Selain itu PPNI juga berjuang agar rumah sakit yang tidak mau membayar gaji perawat 3x UMP tidak diberikan izin untuk beroperasi. Sebab perawat menjadi ujung tombak pelayanan jaminan kesehatan nasional (JKN).

Sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan perawat, PPNI tengah memfasilitasi anggotanya untuk praktik mandiri serta mendukung dan mendampingi pengurusan perizinannya.

Harif mengungkapkan HUT Ke-44 PPNI pada 17 Maret 2018 dijadikan momentum untuk mendorong peningkatan kesejahteraan perawat melalui “Gerakan Perawat Dalam Mendukung Praktik Keperawatan Mandiri”.

Untuk mewujudkan gerakan tersebut, PPNI telah menetapkan Pedoman Praktik Keperawatan Mandiri sebagai panduan bagi semua perawat dalam melakukan praktik keperawatan mandiri.

Ketika perawat diberi kesempatan praktek mandiri, selain dia bertugas di Rumah Sakit, Puskesmas, di Klinik atau dirumahnya, maka akan banyak cakupan-cakupan program kesehatan yang bisa diberikan.

"Diharapkan hal ini bisa membantu dalam berkontribusi terhadap pencapaian target-target pemerintah di bidang kesehatan," beber dia.

Dijelaskan Harif sejatinya praktik perawat mandiri ini telah mendapat ijin dari negara sejak tahun 2001 dari Kementerian Kesehatan. Namun, dalam implementasinya banyak hambatan-hambatan yang terjadi terutama di dinas-dinas kesehatan di daerah, yang enggan mengeluarkan ijin praktik.

Alasannya, kata dia, bila ijin diberikan, khawatir dianggap sama prakteknya dengan seorang dokter. “Sehingga banyak daerah-daerah yang tidak mau mengeluarkan ijin praktik untuk perawat. Akibatnya jumlah perawat yang praktik sangat sedikit. Saya harap ada regulasi yang memperkuat ini,” beber dia.

Kemudian, lanjut Harif, solusi yang ditawarkan PPNI kepada pemerintah adalah bagaimana perawat tersebut bisa dimanfaatkan sebagai agen-agen pembangunan sampai tingkat desa. PPNI juga, tambahnya, sedang mengusulkan tentang bagaimana agar ada perawat desa, yang keberadaannya sudah ada sejak dulu.

"Perawat zaman dahulu yang kerap disebut Mantri itu, kontribusinya sangat luar biasa dalam melayani kesehatan masyarakat. Tapi, hari ini, tidak ada program itu, sehingga para perawat-perawat kita, pilihannya lebih banyak bekerja di fasilitas layanan kesehatan (fasyankes), seperti di Puskesmas, Rumah Sakit, Klinik dan itu jumlahnya tidak cukup menampung dengan kondisi yang ada,” pungkasnya.

(rgm/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up