JawaPos Radar

Kapolri Curhat, Dilema Hadapi Jumlah Kombes

03/07/2018, 16:30 WIB | Editor: Yusuf Asyari
Kapolri Curhat, Dilema Hadapi Jumlah Kombes
Kapolri Jenderal Tito Karnavian (Dok.JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengaku dilema menghadapi banyaknya jumlah Komisaris Besar (Kombes). Di satu sisi, banyak pula perwira baru memiliki semangat tinggi dan berprestasi.

Tito menerangkan, sebelum 1984, rekrutmen anggota Polri relatif tidak terlalu besar. Angkatan 1982 misalnya, hanya ada 46 orang. Sedangkan angkatan 1987 meningkat menjadi 177 orang.

Angkatan 1988 gelombang pertama atau a, hampir 200 orang dan b 200 orang lebih. Lalu angkatan 1989 ke atas terjadi peningkatan sangat signifikan dengan rata-rata di atas seratus orang. "Efeknya terjadi bottleneck di pangkat Kombes," ujarnya saat upacara serah terima jabatan di Rupatama, Mabes Polri, Jakarta, Selasa (3/7).

Sementara itu, total Kombes yang ada saat ini jumlahnya kurang lebih 1.300 orang. Adapun yang tergolong Sespimti untuk naik ke pangkat pejabat tinggi sekitar 500 orang. Namun setiap bulan, pejabat tinggi berpangkat bintang hanya ada 4-5 orang yang pensiun.

"Jadi saya sama Pak Waka (Wakapolri Komjen Pol Syafruddin) ini dalam posisi dilematik," ungkapnya.

Dalam keadaan ini, Tito mengambil keputusan untuk mengerem kenaikan pangkat dengan memperpanjang masa dinas Kompol ke AKBP, AKBP ke Kombes. Untuk angkatan 1990 ke atas, prestasi dan kinerja yang bagus pun menjadi tolok ukur utama untuk kenaikan pangkat.

"Kita mencari yang terbaik untuk kepentingan organisasi, itu tantangan yang kami hadapi," imbuhnya.

Namun, masalah baru muncul usai para Kombes naik menjadi Pejabat Tinggi (Pati) Polri. Untuk mengatasi itu, Tito mengambil langkah. Mulai dari menaikkan Pati bintang 1 menjadi bintang 2, menaikkan tipe Polda, dan menaikkan pangkat bagi Pati yang bertugas di lembaga lain di luar struktur Kepolisian.

"Di luar struktur organisasi semua, kepala BNNP sudah. Kemudian di yang lain-lain seperti Polhukam, OJK, Bakamla, bahkan di institusi lain boleh, seperti Dirjen Hubdat (Hubungan Darat). Ini untuk mengakomodasi ledakan jumlah Kombes," katanya.

Tito pun meminta pengertian bagi mereka yang sudah naik jabatan di level bintang 1. Diharapkan mereka siap ditempatkan di mana pun. "Tapi mau minta Kapolda, Wakapolda, pusing lah saya sama Pak Waka," curhatnya.

Mereka yang mendapat jabatan strategis pun kini dinilai dari prestasi. Tidak lagi berdasarkan senioritas semata.

Untuk itu, Tito meminta maaf jikalau masih ada senior yang harusnya sudah naik pangkat namun belum juga naik. Sementara yang naik pangkat adalah angkatan yang lebih muda.

"Milih senior karena kasihan, milih junior karena performanya bagus, ini dilema yang saya rasakan," pungkas mantan Kapolda Papua itu.

(dna/ce1/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up