JawaPos Radar

Kritikan Pedas Sejarawan Jadi Kado Ulang Tahun Jakarta

22/06/2018, 09:05 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Kritikan Pedas Sejarawan Jadi Kado Ulang Tahun Jakarta
Ilustrasi Jakarta. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Kota DKI Jakarta diakui menjadi pusat kota yang diharapkan membawa perubahan bagi Indonesia. Namun, sayangnya masih saja ada hal-hal yang masih menjadi kendala dalam pengembangan kota.

Sejarawan dari Universitas Indonesia (UI), Bondan Kanumoyoso mengatakan zaman sekarang semua orang orientasinya sudah komersial. Tidak lagi tujuannya itu idealisme. Seperti, tujuan pembangunan jalan yang lebih kepada pembangunan ekonomi murni semua terkomersialisasi.

Bondan melihat selain perekonomian, penataan kota di Jakarta masuk dalam titik jenuh. Katakan, penambahan infrastruktur yang ada dalam penambahan jalan pun tidak memecahkan masalah legendaris Jakarta, kemacetan.

Kritikan Pedas Sejarawan Jadi Kado Ulang Tahun Jakarta
Ilustrasi. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

"Kalau nambah jalan sebanyak-banyaknya tidak menyelesaikan masalah saya kira. Di Jakarta laju kendaraan lebih cepat dibanding laju pembangunan infrastruktur jadi yang perlu dipikirkan itu regulasi," jelas Bondan kepada JawaPos.com, Rabu (20/6).

"Penataan bagaimana mengatur supaya orang tidak menggunakan jalan itu sendiri tentu bisa dibuat cara," imbuhnya.

Berbagai hal dapat diatur, Bondan mengambil contoh dalam kepemilikan kendaraan berlakukan sistem pajak yang kemudian mengatur juga kepemilikan STNK dan SIM. Jadi tidak semua orang menggunakan jalan semaunya sendiri.

"Jadi regulasi diperlukan. Kemudian, peningkatan transportasi umum termasuk penyediaan transjakarta dan 2019 MRT LRT saya lihat kita belum bisa lihat juga luar biasanya dampaknya," tuturnya.

Memang diakui Bondan, hal tersebut bisa sedikit banyak mengurangi tapi tidak bisa terlalu diharapkan untuk mengurangi masalah di Jakarta. Menurutnya, harus ada suatu peraturan yang komperehensif artinya menata ulang berbagai peraturan yang berlaku dalam lalu lintas di kota Jakarta

"Ya saya berharap Jakarta bisa lebih toleran lebih memperhatikan keseragaman karena kota Jakarta ini bukan hanya disediakan untuk sekelompok masyarakat tertentu, agama tertentu. Ini kotanya bangsa Indonesia, dari mode etnis agama dan golongan apapun," harap Bondan.

"Sudah seharusnya Jakarta merepresentasikan heterogitas di Indonesia. Dengan demikian kita melihat Jakarta, kita bisa melihat Indonesia dalam bentuk yang Bhineka," tandasnya.

(rgm/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up