JawaPos Radar

Terlihat 'Aman' dari Gempa, Madura Ternyata Zona Rawan

14/06/2018, 17:13 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Terlihat 'Aman' dari Gempa, Madura Ternyata Zona Rawan
RAWAN: Gempa di Sumenep yang merusak 77 bangunan. (Foto: Humas BNPB for JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, diguncang gempa dengan kekuatan 4,8 skala richter, Rabu (13/6). Akibatnya, enam orang dilaporkan menderita luka dan 77 bangunan rusak. Tingkat kerusakannya, mulai ringan hingga berat.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa tektonik yang berpusat pada koordinat 6,88 LS dan 113,94 BT dengan kedalaman dangkal 12 kilometer. Gempa ini mennguncang kuat di saat warga sedang melaksakan salat tarawih.

Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Dr Daryono MSi menjelaskan, Pulau Madura terlihat merupakan daerah 'aman' gempa. Pasalnya, di daerah ini jarang diguncang gempa.

Padahal, lanjut dia, Madura sebenarnya kawasan rawan gempa. Ada tiga fakta yang mendasari bahwa Madura merupakan wilayah rawan gempa. Yakni, kondisi tektonik, aktivitas seismisitas, dan catatan gempa dirasakan serta merusak.

Fakta pertama, lanjut Daryono, adalah kondisi tektonik. Secara tektonik Pulau Madura merupakan kawasan rawan gempa, karena letaknya berada di dalam zona jalur Sesar RMKS (Rembang, Madura, Kangean, dan Sakala).

Zona sesar RMKS ini memiliki arah barat-timur membentuk zona deformasi dengan lebar sekitar 15-40 km dan panjang 675 km dari area Rembang, Pulau Madura dan Kepulauan Kangean hingga Sakala di bagian timur.

"Sesar RMKS tergolong aktif karena banyak catatan sejarah yang menjadi bukti bahwa Sesar RMKS pernah memicu gempa signifikan dan merusak," katanya, melalui keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Kamis (14/6).

Fakta kedua, imbuh Daryono, adalah bukti aktivitas kegempaan (seismisitas). Jika mengamati sebaran peta seismisitas wilayah Madura yang sudah terelokasi tampak terdapat kluster-kluster aktivitas gempa berkedalaman dangkal yang berasosiasi dengan aktivitas sesar.

Baik di bagian barat, selatan, dan timur Pulau Madura. Data gempa ini merupakan bukti konkret bahwa Pulau Madura cukup aktif aktivitas kegempaannya.

Fakta ketiga adalah catatan gempa dirasakan dan merusak. Daryono menegaskan, gempa dirasakan di Pulau Madura tidak terjadi sekali ini saja.

Pada 20 Februari 2017 gempa Sampang dengan kekuatan magnitude (setara dengan SR) 3,7 pernah mengguncang wilayah barat Madura. Misalnya saja Sampang, Torjun, Ragung, Kedungdung, Karangtengah, Blega, dan Konang dalam skala intensitas III MMI.

Saat itu dilaporkan banyak warga lari berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkn diri. Berikutnya adalah gempa Sumenep yang terjadi Rabu malam 13 Juni 2018 berkekuatan M 4,8 yang merusak puluhan bangunan rumah.

"Fakta itu semakin mengokohkan pendapat kami bahwa Madura memang zona rawan gempa," tandas dia. 

(tik/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up