JawaPos Radar

Fakta-fakta dari Tragedi Tenggelamnya Kapal Kayu di Perairan Sulsel

Tidak Ada Izin, Tidak Ada Manifes

14/06/2018, 13:59 WIB | Editor: Ilham Safutra
Fakta-fakta dari Tragedi Tenggelamnya Kapal Kayu di Perairan Sulsel
Keluarga korban tenggelam KM Arista tak kuasa menahan tangis saat di depan Kamar Jenazah RS AL Jala Ammari Makassar (MUHAMMAD IDHAM AMA/FAJAR/Jawa Pos Group)
Share this image

JawaPos.com - Ada sejumlah fakta besar di balik tragedi tenggelamnya dua kapal di perairan Sulawesi Selatan (Sulsel) kemarin (13/6). Tragedi pilu yang melibatkan KM Arista dan satu kapal jalloro itu terjadi di antara Pelabuhan Paotere menuju Pulau Barrang Lompo.

Sebanyak 13 nyawa melayang akibat kecelakaan itu. Jumlah korban masih bisa bertambah. Sebab, jumlah penumpang kapal tidak diketahui secara pasti. Pasalnya, kapal tersebut tidak memiliki manifes penumpang. Pun demikian izin mengangkut manusia.

Kabidhumas Polda Sulsel Kombespol Dicky Sondani menjelaskan, kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 13.00. Sekitar 15 menit setelah memulai pelayaran. KM Arista mungkin tenggelam karena ombak yang terlalu tinggi. "Memang siang tadi ombak tinggi sekali," katanya saat dihubungi Jawa Pos kemarin.

Fakta-fakta dari Tragedi Tenggelamnya Kapal Kayu di Perairan Sulsel
Petugas mengangkat salah satu korban tenggelam KM Arista di RS AL Jala Ammari Makassar (MUHAMMAD IDHAM AMA/FAJAR/Jawa Pos Group)

Dicky menerangkan, KM Arista milik perorangan. Melayani penyeberangan dari Pelabuhan Paotere menuju Pulau Barrang Lompo. "Tidak ada tiket. Tidak ada daftar yang dimiliki."

Mengantisipasi korban yang belum dievakuasi, petugas terus melakukan pencarian. Sampai siang kemarin sudah ditemukan 37 penumpang. Sebanyak 24 selamat, 13 lainnya meninggal dunia.

"Namun, kami belum mengetahui berapa jumlah pasti penumpang," kata Dicky.

Polisi saat ini mendata penumpang yang selamat. Mereka yakin nakhoda kapal masih hidup. Dia termasuk 24 penumpang yang selamat.

Sementara itu, Kepala Posko Mudik Harian Perhubungan Laut Muhamad Syaiful membenarkan adanya kapal tenggelam di perairan Makassar.

"Itu jenis kapal kayu kecil. Biasanya untuk jarak dekat saja," ungkapnya saat ditemui Jawa Pos di Posko Tingkat Nasional Angkutan Lebaran Ter­padu kemarin.

Syaiful menjelaskan bahwa pihaknya tengah berkoordinasi dengan SAR dan KNKT untuk keterangan lebih lanjut. "Sekarang ini tim dari KNKT sudah berada di lokasi kejadian," ujarnya.

Kehilangan Anak-Istri

Yusuf, salah seorang korban selamat, begitu terpukul atas kejadian itu. Rencana mudiknya ke kampung halaman berujung kehilangan anak dan istri. Di tengah perjalanan dari Pelabuhan Paotere menuju Pulau Barrang Lompo, KM Arista yang dia tumpangi bersama keluarganya tenggelam.

Istri Yusuf, Ariani, 30, dan anaknya, Arsyam, 1, tewas dalam tragedi itu. Sementara anak pertamanya, Yusri, 5, kritis dan menjalani perawatan di rumah sakit.

Bukan hanya Yusuf yang kehilangan. Total ada 13 penumpang yang tewas. Semua penumpang merupakan warga pulau yang baru saja membeli keperluan untuk Lebaran di wilayah daratan Makassar. Yusuf sendiri berhasil menyelamatkan diri.

Ishak, kerabat Yusuf yang juga ikut dalam kapal, berkata bahwa KM Arista mulai kehilangan keseimbangan saat diempas ombak besar. Semua penumpang panik. Kapal mulai oleng dan nakhoda pun sulit mengendalikan.

Ishak kebetulan berada tak jauh dari nakhoda. Sedangkan Ariani dan kedua anaknya berada di bagian yang berbeda. "Saya lihat dari jauh, Ibu Ariani ini sempat susui anak keduanya sebelum terempas karena ombak," bebernya. 

(idr/lyn/JPG/c9/ang)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up