JawaPos Radar

Dari Tujuh Napiter Kedungpane, Satu Dapat Usulan Remisi

14/06/2018, 22:37 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Remisi Napi Kasus Teroris
ILUSTRASI: Dari 7 narapidana teroris (napiter) penghuni Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1A Semarang atau Kedungpane, satu diantaranya diusulkan mendapat remisi pada lebaran tahun 2018. (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Dari 7 narapidana teroris (napiter) penghuni Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1A Semarang atau Kedungpane, satu diantaranya diusulkan mendapat remisi pada lebaran tahun 2018.

Kepala Lapas Kelas 1 Semarang, Dedy Mulyadi mengatakan, sedianya memang hanya satu napiter tersebut yang memperoleh usulan untuk mendapatkan remisi. "Iya, itu ada tujuh napiter, yang diusulkan satu, kelihatannya dapat, nanti saya cek ulang," ungkap Dedy saat dihubungi, Kamis (14/6).

Dedi mengungkap, satu napiter tersebut merupakan satu dari 499 narapidana penghuni Lapas Kedungpane yang diusulkan kepada Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) untuk mendapat remisi. Jumlah total warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lapas Kedungpane sendiri sebenarnya ada 1.610 narapidana, termasuk 600 merupakan tahanan.

Meski demikian, saat ini pihaknya mengaku baru menerima data untuk 399 orang penerima remisi, terdiri Remisi Kusus (RK) 1 berjumlah 396 orang, dan RK 2 ada tiga orang. "Nah tiga orang ini dengan pengurangan remisi yang diberikan, besok mereka akan bebas," sambung Dedy.

Terpisah, Humas Lapas Kedungpane Semarang Fajar Sodiq menyebutkan, napiter peraih usulan remisi tadi bernama Barkah Nawasaputra. Ia merupakan pindahan dari Lapas Cibinong dua tahun yang lalu.

"Sudah diusulkan karena sudah menenuhi syarat, sekarang yang bersangkutan masih proses usulan pembebasan bersyarat, tinggal nunggu dari Menteri Hukum dan HAM," bebernya.

Fajar menegaskan, untuk napiter lainnya tak mendapat usulan remisi, lantaran bersikap keras dan menolak segala bentuk deradikalisasi untuk kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mereka pun, sebagaimana Fajar sebutkan, telah mendekam di dalam dinginnya jeruji besi dengan hukuman bervariasi.

"Memang sikapnya radikal. Selain menolak tawaran justice collaborator yang kami ajukan untuk memerangi tindak pidana terorisme, sikapnya juga menentang konsep NKRI. Maka, ketika Lebaran tahun ini mereka dihukum tidak mendapat remisi," tegasnya.

Adapun dua diantara enam napiter yang tak mendapat usulan remisi tersebut, antara lain adalah tahanan kasus Bom Bali I yang divonis penjara seumur hidup oleh pengadilan. Keduanya telah menghuni Kedungpane sejak 10 tahun terakhir. Bahkan, sempat mengajukan grasi ke presiden, namun belum ada keputusan.

"Mereka ini Mardiyo sama Abdul Ghani, kerena masih pidana seumur hidup jadi belum mendapatkan remisi. Kalau belum ada perubahan pidana seumur hidup menjadi pidana biasa kan belum," terangnya.

Persetujuan remisi, lanjut Fajar, akan ditandatangani oleh Kemenkumham tepat saat perayaan Idulfitri 1439 Hijriyah atau pada Jumat (15/6) besok. "Nanti penyerahan remisi setelah salat Ied," tandasnya.

(gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up