JawaPos Radar

10 Tahun tak Eksekusi Mati, Thailand Akhirnya Hukum Mati Pembunuh

19/06/2018, 17:05 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
10 Tahun tak Eksekusi Mati, Thailand Akhirnya Hukum Mati Pembunuh
Thailand memberlakukan kembali hukuman mati (Reuters)
Share this image

JawaPos.com - Thailand melakukan eksekusi pertama sejak 2009. Negara tersebut melakukan eksekusi mati kepada seorang pembunuh Theerasak Longji meski hal tersebut ditentang Amnesty Internasional.

Theerasak menikam korbannya 24 kali sebelum mencuri ponsel dan dompet mereka. Theerasak dieksekusi dengan sunti mati pada Senin, (18/6).

"Kami masih memiliki hukuman mati. Kami belum membatalkannya," kata Wakil Sekretaris Kementerian Kehakiman Thailand Tawatchai Thaikaew seperti dilansir AFP Selasa, (19/6).

10 Tahun tak Eksekusi Mati, Thailand Akhirnya Hukum Mati Pembunuh
Ilustrasi hukuman suntik mati (Reuters)

Ditjen Pemasyarakatan menyatakan, 325 narapidana telah dieksekusi sejak 1935, mayoritas oleh regu tembak. Praktek itu berakhir pada 11 Desember 2003. Antara 2003 dan 2009, enam tahanan lainnya dieksekusi dengan suntik mati.

Eksekusi yang dilakukan berfungsi sebagai pelajaran untuk mencegah mereka yang ingin melakukan kejahatan serius atau melanggar hukum untuk mempertimbangkan hukuman ini. Namun kelompok-kelompok hak asasi manusia mengecam hukuman mati yang tiba-tiba. "Ini adalah pelanggaran hak asasi manusia yang patut disesali," kata pernyataan Amnesty International

Amnesty International menuduh Kerajaan Thailand mengingkari komitmen untuk melakukan penghapusan hukuman mati. Menurutnya, Thailand semakin menjauh dari penghapusan hukuman mati.

Angka-angka yang diberikan kepada Amnesty International oleh Kementerian Kehakiman menunjukkan ada 510 orang, termasuk 94 wanita yang terancam hukuman mati. Hampir 200 orang telah kehabisan waktu seperti Theerasak.

Hukuman mati ada di beberapa negara di Asia, termasuk Singapura, Indonesia, dan Tiongkok. Federasi Hak Asasi Manusia Internasional mengecam langkah memberikan hukuman mati sebagai sebuah pengkhianatan.

Padahal, sebelumnya disebutkan kalau Thailand akan mencapai status de facto abolisionis jika tidak melakukan eksekusi mati hingga 24 Agustus 2019, 10 tahun setelah hukuman mati terakhir dilakukan.

(iml/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up