JawaPos Radar

Sejumlah Imam Katolik Akhir-akhir Ini Dibunuh di Filipina

14/06/2018, 13:16 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Sejumlah Imam Katolik Akhir-akhir Ini Dibunuh di Filipina
Imam Katolik dibunuh di Filipina (Al Jazeera)
Share this image

JawaPos.com - Tiga imam Katolik tewas, satu orang terluka parah akibat serangan terpisah di Filipina sejak Desember. Seperti dilansir Al Jazeera pada Rabu, (13/6), pembunuhan tiga imam Katolik sejak Desember telah menimbulkan kekhawatiran di Filipina.

"Kami harus waspada," kata Juru Bicara Konferensi Wali Gereja Filipina Jerome Secillano dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera pada hari Rabu.

"Membunuh adalah bentuk kekerasan. Kami tidak ingin kekerasan merembes di masyarakat. Kami menginginkan masyarakat bebas kekerasan. Kami ingin warga kami bebas berkeliaran, dengan rasa aman dan keamanan," terang Secillano.

Sejumlah Imam Katolik Akhir-akhir Ini Dibunuh di Filipina
Duterte dinilai keras terhadap gereja (Reuters)

Richmond Nilo adalah anggota terbaru dari pendeta Katolik yang dibunuh oleh orang-orang bersenjata tak dikenal pada hari Minggu. Saat itu ia sedang mempersiapkan sebuah kebaktian di Provinsi Nueva Ecija.

Para pemimpin Katolik di distrik tempat Nilo melakukan pelayanan sebagai imam juga mengeluarkan pernyataan yang tegas terhadap Presiden Rodrigo Duterte. Kebijakan Duterte terhadap narkoba telah menyebabkan ribuan orang tewas.

Pada bulan Desember 2017, seorang imam berumur 72 tahun ditembak di Nueva Ecija, hanya beberapa jam setelah memfasilitasi pembebasan tahanan politik. Pada April, seorang imam berusia 37 tahun, yang mengadvokasi etnis minoritas dan menentang penambangan, tewas di provinsi utara Cagayan.

Seorang imam keempat, yang telah melayani kapel polisi Filipina selamat dari upaya pembunuhan di luar Ibu Kota Manila awal bulan ini. Pada hari Rabu, Senator oposisi Risa Hontiveros mengajukan resolusi yang menyerukan penyelidikan atas pembunuhan para imam.

"Ini adalah pertanyaan yang mengganggu pikiran orang. Apakah para imam juga menjadi sasaran sekarang? Apakah serangan ini berasal dari serangan verbal berulang-ulang Presiden Duterte terhadap gereja?", ujar Hontiveros dalam sebuah forum publik.

Hontiveros mengatakan, Presiden Duterte memiliki kebiasaan mengecam para pengeritiknya, termasuk Gereja Katolik, yang telah terang-terangan menentang perang mematikan terhadap narkoba.

Di masa lalu, Duterte, yang beragama Katolik, mengatakan, Gereja Katolik di Filipina tidak memiliki otoritas moral untuk mengkritiknya, menghukum pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh para imam. Dia juga mengutuk Paus Francis selama kampanye presiden 2016.

(ina/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up