JawaPos Radar

Wah, Profesor Perempuan Asal Indonesia Dapat Penghargaan di Australia

12/06/2018, 14:41 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Wah, Profesor Perempuan Asal Indonesia Dapat Penghargaan di Australia
Rose Amal, perempuan asal Indonesia yang kini menjadi profesor di University of New South Wales (Sydney Morning Herald)
Share this image

JawaPos.com - Rose Amal, perempuan asal Indonesia yang kini menjadi profesor di University of New South Wales (UNSW) Australia mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Australia. Dilansir Sydney Morning Herald pada Senin, (11/6), penghargaan tersebut bernama Companion of the Order of Australia (AC) yang diberikan selama peringatan ulang tahun Ratu Elizabeth.

Ketika itu, Pemerintah Australia akan memberikan penghargaan pada mereka yang dianggap berjasa di bidang tertentu. Rose asal Medan yang pindah ke Australia sejak 35 tahun yang lalu tersebut menerima penghargaan atas jasanya di bidang teknik kimia.

"Australia adalah negeri kesempatan bagi orang-orang, tidak peduli apa ras Anda, tidak peduli apa jenis kelamin Anda, jika Anda bekerja keras, Anda akan mencapai impian Anda," kata Rose.

Laboratorium Rose di Universitas NSW (UNSW) sedang merancang sistem katalis yang lebih efisien yang menggunakan energi dari matahari, yang dikumpulkan dalam panel surya di atap Gedung Teknologi Energi Tyree tempat ia bekerja. Ini untuk mengubah air dan karbondioksida menjadi sumber bahan bakar terbarukan.

Matahari mengaktifkan katalis yang memisahkan air menjadi oksigen dan hidrogen. Hidrogen kemudian bereaksi dengan karbondioksida, senyawa kimia stabil yang membutuhkan banyak energi untuk dipecah, untuk menghasilkan bahan bakar alternatif.

Rose mengembangkan sistem katalis yang lebih terjangkau yang tidak bergantung pada platinum untuk memecah air menjadi hidrogen, dan dapat menggunakan energi matahari untuk memecah CO2.

Rose sekarang mengumpulkan tim multidisiplin untuk mengembangkan sistem yang akan mencapai efisiensi pembangkit hidrogen yang lebih tinggi dan biaya energi yang lebih rendah. Pada 1980-an, Rose datang ke Australia untuk kuliah. Kondisi Indonesia saat itu tidak memungkinkan ia diterima di Universitas terbaik di Indonesia.

Orang tuanya ingin Rose menjadi dokter tetapi dia memilih teknik kimia karena eksperimen biologi dengan katak membuatnya takut. Tapi eksperimen-eksperimen kimia, membuatnya bersemangat.

(ina/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up