JawaPos Radar

Mudik Asyik Tanpa Macet, Manfaatkan Helikopter Carteran

Berangkat Bisa Kapan Saja

10/06/2018, 13:46 WIB | Editor: Ilham Safutra
Mudik Asyik Tanpa Macet, Manfaatkan Helikopter Carteran
Ilustrasi: helikopter carteran bisa memudahkan perjalanan mudik untuk rute Jakarta-Bandung (Pixabay.com)
Share this image

Paket mudik dengan helikopter tak hanya menawarkan pendeknya durasi, tapi juga fleksibilitas titik dan jam keberangkatan serta lokasi pendaratan. Di sisi lain, ada yang memilih pulang kampung dengan gowes untuk mendapatkan sensasi keseruan.

SEKARING RATRI - AGFI SAGITTIAN, Jakarta

---

Mudik Asyik Tanpa Macet, Manfaatkan Helikopter Carteran
Pemudik yang menggunakan moda kereta dan berangkat dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta. (Issak Ramadhan/JawaPos.com)

DARI Jakarta hendak mudik ke Bandung, tapi pusing duluan dengan bayangan kepadatan tol Cipularang? Atau kemacetan yang menghadang begitu memasuki ibu kota Jawa Barat itu?

Tenaaang. Ada solusinya kok bagi Anda yang mengejar kenyamanan dan ketepatan At certain price, tentu saja. Cukup 40 menit sudah bisa menginjakkan kaki di Kota Kembang dari ibu kota.

"Kadang kalau ada angin yang mendorong dari belakang, malah bisa cuma 38 menit sudah sampai Bandung dari Jakarta," kata CEO PT Whitesky Aviation Denon Prawiraatmaja kepada Jawa Pos kemarin (9/6).

PT Whitesky Aviation adalah perusahaan yang menyediakan paket mudik dengan carter helikopter. Bahkan, ada diskonnya. Kalau biasanya harga normal Jakarta-Bandung Rp 18 juta, kini tarifnya didiskon tinggal Rp 12 juta untuk helikopter berkapasitas empat orang. "Kalau yang heli untuk kapasitas enam orang harganya Rp 16 juta dari harga normalnya Rp 24 juta," ucapnya.

Bukan cuma Bandung. Tapi juga kota-kota di sekitar Jawa Barat lainnya seperti Bogor, Sukabumi, dan Cirebon. Bahkan, ada pula yang sampai ke Anyer di Serang, Banten.

Pilihan agar bisa mudik dengan asyik memang semakin beragam. Di darat, laut, maupun udara tersedia. Kementerian Perhubungan, misalnya, menyediakan mudik gratis lewat laut. Ke tiga jurusan: Jakarta-Surabaya, Jakarta-Semarang, dan Jakarta-Lampung. Tak keluar ongkos, bisa menghindari kemacetan lagi.

Tapi, tentu kategori asyik berbeda bagi tiap orang. Tak semuanya mendefinisikannya sebagai "cepat sampai" atau "terhindar dari kemacetan". Komunitas Bike to Work (B2W), contohnya, tahun ini melanjutkan tradisi mudik dengan gowes alias ngonthel sepeda. Padahal, jarak yang ditempuh bisa sampai ratusan kilometer.

Dari titik keberangkatan di lapangan parkir Korlantas Polri, Jakarta, Jumat lalu (8/6), ada yang mudik ke Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Jawa Timur. Toh, sejak dimulai pada 2013, dari tahun ke tahun jumlah yang ikut mudik dengan gowes terus bertambah. "Tahun ini peserta Gowes Moedik 2018 sekitar 150 orang. Hampir dua kali lipat dari tahun lalu yang mencapai 80 orang," ujar Ketua B2W Indonesia Poetoet Soedarjanto saat dijumpai di acara pelepasan Gowes Moedik 2018.

Pilihan mudik dengan gowes itu tentu saja diambil bukan karena mereka tak punya uang. Rata-rata anggota B2W adalah para pekerja profesional. Menurut para peserta, ada sensasi yang tak tergantikan saat mudik dengan sepeda. Salah satunya adalah keseruan saat singgah di kota-kota selama perjalanan.

"Biasanya kami bermalam di SPBU, rumah makan, masjid, atau pos polisi. Serunya lagi, saat ada agenda mudik gowes seperti ini, teman-teman komunitas sepeda di daerah menyediakan posko-posko untuk beristirahat," beber Fadilah, salah seorang peserta yang mudik ke Brebes, Jawa Tengah.

Untuk yang memilih mudik dengan helikopter, selain durasi perjalanan yang pendek dan jaminan bebas dari kemacetan, fleksi­bilitas turut jadi pertimbangan. Sebab, saat ini Whitesky Aviation memiliki 203 titik pendaratan di wilayah Jakarta dan 53 di kawasan Bandung.

Banyaknya titik pendaratan tersebut memudahkan penumpang untuk terbang dari wilayah yang dekat dengan tempat tinggalnya. Dia mencontohkan, semisal calon penumpang tinggal di wilayah Karet. Dia bisa langsung terbang dari titik keberangkatan terdekat di Hotel Shangri-La. Begitu juga lokasi pendaratan di Bandung. "Kalau penumpang ingin mendarat langsung di kawasan Dago Atas ya bisa," lanjutnya.

Selain itu, jelas Denon, penerbangan dengan helikopter tidak seperti penerbangan dengan maskapai yang terjadwal. Penumpang bisa berangkat kapan saja asal tidak di atas pukul 6 sore. Sebab, infrastruktur penunjang untuk penerbangan malam belum ada. Tipe helikopter yang disediakan ialah Bell 505 yang empat seat. Sedangkan yang kapasitas enam penumpang adalah Bell 429.

Untuk paket mudik tahun ini, ketua bidang penerbangan tidak terjadwal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) itu mengungkapkan, sejauh ini ada 15 calon penumpang yang sudah menanyakan tanggal penerbangan. Sementara yang sudah reserved tiga penumpang.

Untuk rute mudik, yang paling diminati adalah rute Jakarta-Bandung. Ada juga Jakarta-Sukabumi dan Jakarta-Cirebon. "Kalau di Cirebon atau Sukabumi, kami biasanya landing di open area dengan seizin pemda, kepolisian, atau TNI setempat," ungkapnya.

Di luar paket mudik, Denon menjelaskan, peminat jasa penerbangan dengan helikopter justru cukup tinggi. Dalam sehari, pihaknya bisa melayani rata-rata dua penerbangan. Atau 40 dalam sebulan.

Rute penerbangan yang paling banyak diminati biasanya Jakarta ke Bandung, Anyer, Cirebon, Sukabumi, Cikarang, Cikampek, dan sekitar Bogor. Helicity itu sendiri baru resmi dirilis pada Desember 2017.

Sementara itu, di darat Poetoet bersama kawan-kawannya di B2W saat ini pastinya masih tengah merayap di sela lalu lintas yang mulai padat. "Total jarak tempuh saya ke Madiun sekitar 700-an kilometer. Saya targetkan lima hari bisa sampai lah," ucap Poetoet sebelum keberangkatan.

Apa pun pilihannya, sama-sama asyik. Punya sensasi sendiri-sendiri yang tentu tak bisa diukur dengan nominal. 

(*/c9/ttg)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up