JawaPos Radar

BI Suspend GrabPay

Ramai-Ramai Urus Izin Layanan Uang Elektronik

17/10/2017, 20:02 WIB | Editor: Dwi Shintia
Pembayaran elektronik
Ilustrasi pembayaran elektronik (Pixabay)
Share this image

JawaPos.com - Bank Indonesia menertibkan satu lagi layanan uang elektronik. Grabpay, uang elektronik besutan perusahaan penyedia platform transportasi online Grab, untuk sementara harus menghentikan layanan isi ulang (top up) saldo terhitung mulai pukul 09.00 kemarin (16/10).

Direktur Program Elektronifikasi Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI Pungky Purnomo Wibowo menyebutkan, sejauh ini ada beberapa layanan uang elektronik yang fitur top up-nya di-suspend. Di antaranya, Shopeepay, Tokocash, Paytren, Bukadompet, dan Grabpay. Hingga kini, belum ada satu pun penyelenggara uang elektronik tersebut yang mengantongi izin.

”Belum ada (yang punya izin, Red). Apakah ada yang sedang mengajukan izin, ya ada. Tapi, kalau berapa (perusahaan), ya itu internal (rahasia, Red),” ujarnya.

BI mensyaratkan tiga hal untuk memperoleh izin tersebut. Pertama, para penyedia layanan harus mempunyai pembukuan perusahaan yang baik dan detail. Kedua, mereka harus mempunyai sistem TI yang mumpuni. Berikutnya, saldo dan data-data pengguna harus dijamin aman.

Berdasar Peraturan Bank Indonesia (PBI) No 16/8/PBI/2014 tentang Perubahan atas PBI No 11/12/PBI/2009 tentang Uang Elektronik dan Surat Edaran (SE) BI Nomor 16/11/DKSP Juli 2014, pengajuan izin harus dilakukan para penyelenggara uang elektronik yang minimal sudah mempunyai balance Rp 1 miliar di dalam produk uang elektroniknya. Menurut Pungky, sejauh ini komunikasi dengan manajemen Grab terjalin dengan baik. Grab juga telah bersedia untuk mematuhi aturan BI.

Managing Director Grabpay Ongki Kurniawan mengatakan, Grab terus berekspansi ke banyak daerah di Indonesia. Respons masyarakat terhadap Grabpay juga terus meningkat. Di sisi lain, Grab sedang mempertimbangkan untuk melakukan ekspansi layanan Grabpay. Saat ini Grabpay masih ada dalam aplikasi Grab.

’’Kegunaan ini nanti kan banyak. Ada transpor, food, gaming, dan sebagainya. Make sense juga nanti kalau kami pikirkan untuk Grabpay agar menjadi aplikasi terpisah dengan Grab. Namun, itu belum diputuskan, masih dalam proses evaluasi,” urainya.

Menurut dia, tidak mudah mendirikan aplikasi layanan uang elektronik yang terpisah dari aplikasi utama Grab. Selain soal perizinan, harus ada edukasi lagi kepada masyarakat. Grab pun harus mempertimbangkan banyak hal.

Mulai sisi pemasaran, komersial, operasi teknis, hingga investasi. ’’Dari segi potensi, memang kami lihat potensi bisnisnya besar. Tapi, kami belum putuskan, masih mempertimbangkan,” katanya.

Mantan managing director Line Indonesia itu menambahkan, Grab mempunyai keinginan yang sejalan dengan BI. Yakni, mengembangkan budaya transaksi nontunai. Masalah keamanan, teknologi, dan akuntansi juga selalu menjadi perhatian perusahaan.

Dia pun berharap pengurusan izin di BI segera selesai. Dia menjamin layanan Grabpay selain top up masih bisa digunakan. Misalnya, transaksi bayar dan poin reward. ”Kami sudah mengomunikasikan penghentian layanan sementara ini, misalnya lewat pop up notifikasi di aplikasi Grab dan lewat blog. Untuk pengguna yang sudah punya balance, layanan Grabpay masih bisa digunakan selain top up,” urainya.

Sementara itu, sejumlah e-commerce yang juga mendapatkan suspend terkait layanan payment elektronik berusaha memenuhi perizinan dari BI. Misalnya, layanan Tokocash dari Tokopedia. Layanan top-up Tokocash untuk sementara dibekukan BI.

Founder sekaligus CEO Tokopedia William Tanuwijaya menyebutkan, Tokopedia masih berusaha mengejar perizinan dari BI. ”Prosesnya terus berjalan, tapi kami optimistis karena misi Bank Indonesia ini kan juga mendorong gerakan nasional nontunai, sama dengan misi Tokopedia,” ujar William di Jakarta kemarin.

William menegaskan, kerja sama antara Tokopedia dan BI sebagai regulator hanya masalah waktu. Namun, dia tidak bisa memastikan kapan layanan Tokocash bisa diisi ulang lagi. Sebab, kewenangan ada di BI. Sembari menunggu proses lisensi dari regulator, Tokopedia mengoptimalkan fungsi Tokocash itu sendiri. ”Nanti setelah mendapat lisensi, Tokocash tidak hanya digunakan untuk melakukan pembayaran di Tokopedia, tapi bisa untuk yang lainnya,” jelas William.

Akibat penghentian sementara Tokocash oleh BI, konsumen Tokopedia yang menggunakan layanan tersebut tidak bisa melakukan isi ulang. Sementara itu, seluruh fitur Tokocash seperti transaksi, cash back, refund, dan redeem Gift Card masih berfungsi seperti biasa.

Selain Tokopedia, layanan Bukadompet milik Bukalapak dibekukan BI. ’’ukadompet tetap dapat digunakan untuk bertransaksi dan mencairkan dana. Hanya top up yang untuk sementara tidak bisa dilakukan pengguna,’’ ujar Cofounder dan CFO Bukalapak M. Fajrin Rasyid. (*)

rin/agf/c7/fal

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up