JawaPos Radar

Saran Faisal Basri agar Rupiah Tidak Terus-terusan Keok

11/07/2018, 17:52 WIB | Editor: Mochamad Nur
Saran Faisal Basri agar Rupiah Tidak Terus-terusan Keok
Ekonom UI Faisal Basri (Dok.JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) telah berlangsung sejak beberapa bulan terakhir. Guna meredam depresiasi rupiah, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin (bps) dalam dua bulan terakhir. Namun, hingga kini dampaknya belum terlihat, bahkan terus mengalami tekanan.

Ekonom Senior Faisal Basri punya saran kepada pemerintah dan Bank Indonesia (BI) agar rupiah tidak terus-terusan keok. Pertama, Bank Sentral perlu memperkuat capital inflow atau modal masuk dari berbagai sumber.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan memperkuat Current Account Deficit (CAD) atau defisit transaksi berjalan agar bisa surplus. Masalahnya, neraca perdagangan kuartal kedua 2018 mencatat defisit sebesar USD 790 juta. Angka itu naik dibanding kuartal sebelumnya yang hanya USD 450 juta.

Saran Faisal Basri agar Rupiah Tidak Terus-terusan Keok
Ilustrasi penukaran mata uang di money changer (Dok.JawaPos.com)

"Intinya hidup mati rupiah adalah capital inflow atau modal masuk. Solusi jangka menengah adalah bagaimana kita agar tidak bergantung capital inflow, nah maka current account harus surplus. Caranya adalah dengan mengurangi impor dan meningkatkan ekspor. Pertanyaannya adalah masihkah kita punya kapasitas untuk meningkatkan kapasitas ekspor?" ujarnya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu (11/7).

Cara kedua, lanjut Faisal, dengan memperkuat sektor pariwisata. Dengan mendorong sektor tersebut, dirinya optimistis upaya untuk memperkuat arus modal masuk bisa tercapai.

"Yang bisa cepat adalah tourism dengan membuka direct flight," tuturnya.

Terakhir, dia menambahkan, pemerintah dan BI perlu memperbaiki kondisi psikologis masyarakat saat ini. Di tengah pelemahan rupiah terhadap dolar, banyak juga mereka yang memburu dolar.

"Terlepas dari masa lalu, tidak ada yang namanya gerakan cinta rupiah," tutupnya.

(ce1/hap/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up