JawaPos Radar

Pemerintah Mulai Siapkan Antisipasi Perang Dagang AS dan Tiongkok

08/07/2018, 19:31 WIB | Editor: Ilham Safutra
Pemerintah Mulai Siapkan Antisipasi Perang Dagang AS dan Tiongkok
Keramik dipasang di kamar mandi. Keramik salah satu produk yang banyak dibanjiri dari Tiongkok. (Pixabay.com)
Share this image

JawaPos.com - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok memanas. Pada Jumat (6/7) AS memberlakukan tarif atas produk-produk impor Tiongkok yang ditaksir senilai USD 34 miliar. Diperkirakan, aksi itu mengundang keputusan balasan Tiongkok dengan mengenakan bea masuk tinggi untuk barang-barang produksi Amerika yang masuk Tiongkok.

Direktur Jenderal Ketahanan Industri dan Pengembangan Akses Industri Internasional Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawirawan mengkhawatirkan membanjirnya produk impor akibat perang dagang. "Jadi, kalau mereka saling tahan-menahan barang itu, biarkan saja. Tetapi, yang dikhawatirkan luberan kemari," terangnya kemarin (7/7). Putu memprediksi, ada dua industri yang rentan terdampak perang dagang, yakni keramik dan baja.

Karena itu, pemerintah segera mengadakan rapat koordinasi dengan kementerian/lembaga terkait antisipasi dampak perang dagang. "Mau dirapatin Minggu sore karena banyak pihak yang mesti terlibat di situ dari Kemendag, Kemenlu apa strategi kita. Dari sisi Kemenperin ya perkuat pelakunya, apa ada masalah, kita tangani. Ada masalah bahan baku, ditangani dulu," urainya.

Pemerintah Mulai Siapkan Antisipasi Perang Dagang AS dan Tiongkok
Produk baja dari AS dan Tiongkok juga banyak membanjiri perdagangan tanah air. (Doni/Radar Banten/Jawa Pos Group)

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance Bhima Yudhistira mengatakan, adanya perang dagang mengakibatkan volume perdagangan dunia menurun. Dengan begitu, produksi turun dan kebutuhan bahan baku ikut anjlok. ''Padahal, mayoritas ekspor berasal dari sektor berbasis bahan baku seperti sawit dan karet. Karena itu, defisit neraca perdagangan dikhawatirkan berlanjut pada semester kedua nanti," urai Bhima.

Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Keramik dan Aneka Industri (Asaki) Hendrata Atmoko mengungkapkan, pihaknya telah berancang-ancang mengajukan safeguard ke Kementerian Perdagangan agar bisa menekan impor keramik di Indonesia. "Tanpa adanya perang dagang pun, produk keramik dan granit sudah dibanjiri impor dari Tiongkok," imbuhnya. Dia menambahkan, angka impor produk keramik dan granit pada 2017 naik 28 persen jika dibandingkan dengan 2016. 

(vir/c7/kim)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up