JawaPos Radar

Ekspedisi 1.167 Km Tol Trans-Jawa

Antisipasi Macet, Tambah Mobile Reader di Tol Cikampek

12/06/2018, 20:00 WIB | Editor: Dhimas Ginanjar
Antisipasi Macet, Tambah Mobile Reader di Tol Cikampek
BAKAL PADAT: Pekerjaan konstruksi jalan tol elevated Jakarta-Cikampek II. Kepadatan lalu lintas tak dapat dihindari selama proses pembangunan berlangsung. (RAKA DENNY/JAWA POS)
Share this image

Kemacetan di tol Jakarta–Cikampek selalu menjadi cerita pembuka musim mudik Lebaran. Antrean kendaraan di pintu gerbang, lajur yang menyempit, serta rest area yang kelebihan kapasitas menjadi pemandangan umum.

Semestinya musim mudik tahun ini akan berbeda ceritanya. General Manager PT Jasa Marga Cabang Jakarta–Cikampek Raddy Riadi Lukman mengungkapkan, setidaknya ada tiga hal yang membedakan musim mudik tahun lalu dan sekarang. Yakni, tersambungnya Jakarta–Surabaya via tol, penggunaan cashless payment 100 persen, serta penyempitan jalan karena proyek-proyek di sekitar tol Cikampek.

”Dengan terkoneksinya tadi (Jakarta–Surabaya, Red) bisa meningkatkan animo masyarakat kan? Yang tadinya misalnya tidak melalui tol, wah sekarang sudah nyambung nih dari Jakarta,” ujar Raddy yang ditemui di kantornya pada 23 Mei lalu. Diprediksi, puncak arus mudik di tol Jakarta–Cikampek terjadi pada Sabtu (9/6) sebanyak 112 ribu kendaraan. Sedangkan puncak arus balik diprediksi terjadi pada 20 Juni dengan total 110.500 kendaraan.

Antisipasi Macet, Tambah Mobile Reader di Tol Cikampek
HARUS SABAR: Situasi lalu lintas di gerbang tol Cikarang Utara dua pekan lalu. Saat musim mudik disiapkan mobile reader untuk mempercepat antrean. (RAKA DENNY/JAWA POS)

Sementara itu, di sebelah kanan, kiri, dan tengah tol, ada empat proyek sekaligus. Yakni, tol Jakarta–Cikampek Elevated; light rail transit Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi (LRT Jabodebek); kereta cepat Indonesia China (KCIC) Jakarta–Bandung; dan proyek tol Cibitung–Cilincing yang mulai dibangun melewati Km 25. Proyek tersebut menimbulkan penyempitan lajur di sepanjang proyek seperti yang dilihat Jawa Pos saat menelusuri jalur itu pada 23 Mei lalu.

Potensi lain yang mengganggu kelancaran lalu lintas adalah kepadatan di ruas Cikunir–Cibitung serta Pondok Gede Barat–Pondok Gede Timur. Selain itu, kemacetan terjadi karena antrean masuk ke tempat istirahat atau rest area seperti tahun lalu. Juga gangguan seperti kendaraan mogok. ”Tak cukup hanya nambah kapasitas gardu dengan semua persoalan itu,” ungkap Raddy.

Bahkan, dia berani menyebut bahwa gardu Cikarang Utama (Cikarut) yang dianggap salah satu titik kemacetan parah ternyata bisa dengan mudah diurai. Tahun lalu Cikarut punya 31 exit dan 20 entrance. Tapi, cukup dengan 28 exit dan 16 entrance, kepadatan sudah terurai. ”Tahun ini exit kebunuh dua karena kena proyek tol,” imbuhnya.

Raddy mengungkapkan, salah satu inovasi tahun ini adalah pemanfaatan 25 mobile reader. Sebanyak 10 alat di antaranya dipergunakan untuk pintu masuk dan 15 lainnya untuk pintu keluar. Exit butuh lebih banyak karena transaksinya lebih lama.

”Kalau entrance itu hanya mengisi data asal perjalanan dan golongan. Sedangkan untuk exit perlu mencetak tanda terima juga,” ujarnya sambil menunjukkan gambar mobile reader itu.

Sepintas, ukurannya seperti mesin electronic data capture (EDC) untuk pembayaran dengan kartu debit atau kredit. Mobile reader akan dibawa petugas untuk mendatangi pengendara yang mengantre di pintu gerbang. ”Jadi, bisa maju dua-dua dengan mobile reader dan tap di gate. Ini bisa menambah kapasitas 35–40 persen,” jelasnya.

Penambahan petugas yang membawa mobile reader itu dilakukan untuk mengantisipasi membeludaknya pengguna tol agar kejadian seperti tragedi Brexit atau Brebes Exit pada 2016 tidak terulang. Saat itu jumlah kendaraan tidak sebanding dengan kapasitas gardu dan pintu keluar sehingga membuat kemacetan hingga 34 kilometer.

”Dengan adanya informasi tol sudah tersambung, jangan-jangan seperti Brexit tadi. Untuk antisipasi pakai mobile reader itu,” ungkapnya.

Selain itu, dikhawatirkan ada masyarakat yang belum tahu saat ini tidak ada lagi pembayaran gardu tol dengan uang tunai. Nah, pengendara yang tidak membawa kartu tol itu tentu bisa menyumbat di pintu gerbang tol. ”Mobile reader pasti berguna untuk mengatasi itu,” tambah Raddy yang pernah bertugas di tol Surabaya–Gempol.

Sementara itu, penyempitan lajur tersebut terdapat di jalur Jakarta–Cikampek pada Km 21, Km 31, dan Km 37 dari empat menjadi tiga lajur. Di arah sebaliknya, ada penyempitan di Km 46 dan setelah gerbang Cikarut di Km 29.

Strategi yang akan dilakukan adalah membuat kebijakan tidak ada lagi pengerjaan proyek sejak H-10 hingga H+10. Pada saat itu, badan jalan yang sebelumnya dimakan pagar untuk pengerjaan proyek itu bisa digeser sehingga jalur bisa lebih lebar.

”Kami juga atur dengan rekayasa garis markah,” ungkap Raddy. Garis markah itu menjadi pemandu bagi pengendara untuk mengetahui wilayah mengemudi. Biasanya jarak satu garis markah dengan lainnya itu 3,6 meter. Tapi, karena penyempitan lajur seperti di Km 21, ada lajur yang hampir terpangkas setengahnya. Maka, lebar lajur dibagi rata. Karena itu, jarak antarmarkah dibuat 3,4 meter atau 3,2 meter. Lebar lajur itu masih cukup untuk mobil.

”Jadi, pengendara bisa menyesuaikan mobilnya dengan panduan markah yang telah disesuaikan itu sehingga tidak terjadi bottleneck,” jelasnya.

Persoalan lain adalah tempat istirahat atau rest area. Jasa Marga pun sudah membuat rekayasa lalu lintas agar alur kendaraan tidak tersendat. Di akses menuju pintu masuk tol itu, juga diberi papan informasi jumlah slot parkir yang tersedia. ”Ada smart CCTV yang mendeteksi jumlah kendaraan yang masuk,” jelasnya. 

Beragam Fasilitas di Rest Area

Tempat istirahat atau rest area di jalan tol menjadi destinasi penting bagi para pengemudi. Apalagi pada saat musim mudik Lebaran. Tidak hanya untuk mengistirahatkan badan, tapi juga kendaraan.

General Manager PT Jasa Marga Cabang Jakarta Cikampek Raddy Riadi Lukman mengungkapkan, tempat istirahat di ruas Jakarta–Cikampek itu memang menjadi jujukan bagi para pemudik. Terutama pemudik yang berasal dari Sumatera yang hendak ke berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan pemudik yang memang berasal Jakarta memang sedikit yang memanfaatkan rest area. ”Kami maksimalkan kapasitas tempat istirahat dan tambah parking bay,” ungkap dia.

Dia mencontohkan, di Km 15 ada parking bay yang bisa menampung sekitar 40 kendaraan dengan fasilitas toilet dan musala. Sedangkan parking bay di Km 6 arah Jakarta berukuran besar. Fasilitasnya 30 toilet perempuan, 21 toilet lelaki, dan 17 urinoar. Juga, 12 unit dispenser.

Selain itu, tempat istirahat di tol Jakarta–Cikampek punya banyak fasilitas pendukung lainnya. Bahkan, ada bengkel mobil yang sangat bermanfaat untuk pengendara yang menempuh perjalanan jauh.

Di Km 57, misalnya, ada Posko Siaga Toyota yang punya ruangan yang lebih nyaman dan luas. Posko tersebut mulai melayani pengendara sejak Kamis (7/6) dan direncanakan hingga 20 Juni atau saat masa arus balik Lebaran. ”Untuk kenyamanan pelanggan, kami buka 24 jam nonstop. Pelanggan bisa beristirahat dan mobilnya juga bisa dicek,” ujar Customer First Advisor PT Toyota Astra Motor Dadi Hendradi yang ditemui di rest area Km 57 Kamis (7/6).

Bengkel tersebut bahkan punya ruang tunggu dengan berbagai hiburan. Ada televisi berlayar lebar yang bisa dipergunakan untuk menonton film atau bermain game. Ada pula kursi pijat. Untuk anak-anak, disediakan tempat bermain. ”Tahun lalu ada 800 mobil yang mengecek kendaraannya. Pengunjungnya sampai 1.270 orang,” ujar Dadi.

Dia mengungkapkan, kebanyakan para pengunjung adalah para pemudik yang berasal dari Sumatera. Mereka telah menempuh perjalanan jauh dan biasanya sudah lebih. ”Biasanya kalau sudah berkendara empat jam lebih itu sudah lelah. Nah, Km 57 ini jadi salah satu tempat favorit untuk beristirahat,” ujar Dadi.

Bangun Jalan Tol di Atas Tol

Ruas tol Jakarta–Cikampek sudah dianggap begitu padat oleh kendaraan. Pemerintah pun menambah kapasitas tol yang dioperasikan sejak 1988 itu dengan membangun Jakarta–Cikampek Elevated sepanjang 36,4 kilometer. Jalan tol yang berada di atas tol Jakarta–Cikampek tersebut akan membentang dari Simpang Susun Cikunir hingga Karawang Barat.

Penelusuran Jawa Pos pada 7 Juni dan 23 Mei lalu, proyek tersebut masih terus dikerjakan. Tiang-tiang penyangga tol yang menggunakan teknologi sosrobahu itu sudah banyak berdiri. Salah satu yang unik adalah pada saat pemasangan bagian atas tiang penyangga tersebut, awalnya dibangun sejajar dengan jalan tol. Tapi, saat sudah selesai, bisa diputar 90 derajat sehingga melintang.

Di Km 25 hingga Km 26 terlihat sudah ada balok baja yang tersambung dari satu tiang ke tiang lainnya. Sedangkan lantai jalan memang belum ada yang tersambung.

Direktur Utama PT Jasa Marga Jalan Layang Cikampek (JJC) Djoko Dwijono menuturkan, progres pekerjaan jalan tol layang Jakarta–Cikampek itu telah mencapai sekitar 37,5 persen. Pembangunan proyek tersebut dimulai April 2017 dan ditargetkan selesai pada Maret 2019. ”Kami berusaha untuk tetap dapat menyelesaikan sesuai rencana dan dapat dioperasikan pada triwulan kedua 2019,” ungkap Djoko kepada Jawa Pos.

Terkait arus mudik dan balik Lebaran, pengerjaan proyek itu sudah dihentikan sementara sejak H-10 hingga H+10 Lebaran. ”Untuk membantu kelancaran lalu lintas,” ungkap dia. Selain itu, JCC menempatkan petugas-petugas di posko-posko lalu lintas. Ada pula tambahan kendaraan layanan lalu lintas. (jun/c10/tom)

(jun/c17/tom)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up